Masjid Islamic Center Mataram

Berkah ataukah justru menjadi semacam kutukan? Pulau Lombok yang berada persis di timur Pulau Bali, selalu menjadi bayang-bayang ketenaran pulau dewata tersebut. Tentu saja, wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara sudah bertahun-tahun lamanya, lebih dulu mengenal Bali.

Jangankan Lombok, Indonesia saja dianggap tetangganya Bali oleh orang asing yang kurang piknik. ”Kami diuntungkan oleh Bali, soal packaging, Bali memang lebih siap,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat M Faozal didepan Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah acara Maret lalu.

Masih menurut Faozal, selama ini, sejumlah objek wisata andalan yang ada di Lombok, juga di Pulau Sumbawa, seperti kawasan pantai Senggigi, tiga gili yang terkenal, Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno, juga keindahan Pulau Moyo masuk dalam paket wisata Bali.

Mestinya ini sebuah keuntungan, karena tanpa harus repot-repot ambil anggaran di APBD untuk biaya promosi, orang lain sudah ikut membantu menjual pariwisata di Lombok dan juga Sumbawa. “Kita tidak mau selamanya seperti itu. Kalau sama, orang pasti akan lari lagi ke Bali,” ujar Lalu Gita Aryadi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Pemprov Nusa Tenggara Barat pada sebuah kesempatan Januari lalu.

Tak mau selamanya menggantungkan nasib kepada Bali, Nusa Tenggara Barat memilih wisata syariah sebagai jalan keluar. “NTB is NTB, Bali is Bali. Keduanya tidak bisa disamakan,” kata Ketua Asosiasi Pariwisata Islam Indonesia, Fauzan.

Kalau dalam ilmu manajemen, ini disebut diferensiasi, agar laku, sebuah produk harus punya pembeda, ciri khas dengan produk-produk sejenis yang suda ada di pasar. Bagi Fauzan ini bukan sekedar bagaimana cara jualan. Ia mengungkapkan besarnya potensi wisata bermerek syariah ini.

Mengutip sebuah penelitian, Fauzan menyebut besarnya pengeluaran wisatawan Muslim saat melakukan perjalanan. Data pada tahun 2011 menunjukkan uang yang dihabiskan wisatawan Muslim di dunia mencapai US$ 126 miliar, jika menggunakan kurs rupiah dalam RAPBN 2016, Rp 13.400 per dolar, jumlah itu setara dengan Rp 1688 triliun. “Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Tiongkok,” katanya.

Secara perlahan, wisata syariah ini mulai mendapat tempat. Kementerian Pariwisata pada 2014 lalu telah menetapkan 12 destinasi yang dinilai mampu menunjukkan keunggulan wisata syariah. Selain Lombok, ada Aceh, Padang, Riau, Lampung, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Solo dan Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar.

Dan tahun ini, Lombok berhasil masuk nominasi Worlds Halal Travel dalam ajang The World Halal Travel Awards 2015. Digelar pada 20 Oktober di Emirates Palace, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Lombok masuk dalam dua nominasi dari 14 kategori yakni World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination.

Dalam kategori World’s Best Halal Honeymoon Destination, Lombok akan bersaing dengan kota-kota lain yang sudah mendunia, seperti seperti Abu Dhabi Uni Emirat Arab, Antali Turki, Krabi di Thailand, dan Kuala Lumpur Malaysia.

Adapun untuk kategori World’s Best Halal Tourism Destination Lombok akan bersaing dengan tujuh destinasi, yaitu Abu Dhabi, Antalia, Aman di Yordania, Doha di Qatar), Istanbul Turki, Marakech Maroko, dan Kuala Lumpur Malaysia.

Tak mudah mengusung konsep wisata syariah, selain baru, belum ada contohnya di Indonesia. Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi mengakui masih banyak tantangan yang akan dihadapi dalam mengembangkan wisata syariah ini. “Apabila persiapannya tidak matang, maka akan berdampak buruk, wisatawan bisa tidak mau lagi berkunjung,” ujarnya.

LOMBOKPRESS | BERBAGAI SUMBER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.