sumber foto/internet

Jakarta – Kawasan Asia Pasifik, saat ini menyita perhatian dunia. Konflik di semenanjung Korea antara Korea Utara – Korea Selatan termasuk Amerika Serikat memasuki babak baru dan kembali memanas. Selain itu, permasalahan sengketa wilayah maupun klaim teritorial di Laut Cina Selatan yang melibatkan banyak negara di kawasan belumlah usai. Krisis kemanusiaan yang terjadi pada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar satu tahun terakhir ini menjadi perhatian khusus di tingkat regional dan global.

Asia Pasifik adalah kawasan yang sangat dinamis dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap dunia. Dinamika perkembangan lingungan strategis Asia Pasifik telah menimbulkan dampak positif dan negatif, baik terhadap kawasan itu sendiri maupun kawasan global.

“TYI, sebagai salah satu think-tank di Indonesia, menganggap isu dan permasalahan geopolitik dan keamanan di Kawasan Asia Pasifik ini sangatlah penting, relevan, signifikan, serta menarik untuk dikaji lebih lanjut, serta peran apa yang dapat diijalankan oleh Indonesia,” kata Direktur Eksekutif  The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Berkaitan dengan hal itu, isu besar kawasan Asia Pasifik dibahas dalam rountable discussion The Yudhoyono Institute (TYI) di Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (20/9), yang mengusung tema ‘Geopolitik dan Keamanan Asia-Pasifik: Apa Peran Indonesia?’

Hadir dalam acara itu Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (yang juga Chairman TYI), mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, mantan Menko Polhukam Djoko Suyanto, mantan Mensesneg Sudi Silalahi, dan sejumlah menteri era SBY lainnya. Selain itu, ada Gubernur Lemhannas Agus Widjojo, Rektor Paramadina Prof. Dr. Firmanzah, dan Syafrie Sjamsoeddin.

AHY menguraikan beberapa isu besar di kawasan Asia-Pasifik. Diantaranya, situasi di Semenanjung Korea yang mulai tegang setelah Korea Utara menguji coba bom hidrogen dan menembakkan rudal melintasi Jepang. “Sepanjang tahun 2017, Korea Utara telah melakukan 15 kali uji coba peluncuran peluru kendali, baik jangka pendek, menengah, maupun interkontinental atau antarbenua, termasuk uji coba bom hidrogen berdaya ledak seratus kiloton,” kata AHY.

AHY juga menyebut isu yang terkait dengan Rohingya. Menurut AHY, saat ini telah timbul kekhawatiran pengungsi Rohingya bisa menjadi sasaran empuk teroris. Akibat tragedi kemanusiaan ini pun pemenang Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, yang merupakan pimpinan Myanmar, mendapat kecaman keras dari dunia.

Disoroti pula isu tentang Laut Cina Selatan yang tak pernah berhenti dibahas dan penting untuk disikapi oleh Indonesia. Dia mengatakan, sengketa Laut Cina Selatan telah berlangsung selama puluhan tahun namun belum ada penyelesaian juga. “Sengketa klaim Laut Cina Selatan sudah berlangsung puluhan tahun dan masih jauh dari penyelesaian,” terang AHY.

Diskusi membahas peran ASEAN dalam menyikapi tantangan kawasan yang semakin kompleks. ASEAN, yang baru saja merayakan hari jadi ke-50, perlu merespons perkembangan dunia yang begitu cepat. “Bagaimana ASEAN menyikapi tantangan-tantangan ekonomi, politik, maupun keamanan dalam kawasannya maupun merespons tantangan yang terjadi di Asia-Pasifik,” tutur AHY.

Isu yang dinilai penting untuk dibahas dalam diskusi TYI ini adalah soal Belt and Road Initiative (BRI) yang dikembangkan oleh China. Diskusi akan membahas peran Indonesia dalam menyikapi program pemerintah China, yang berencana menyambungkan China dengan Asia Tengah dan Eropa. []

DARI BERBAGAI SUMBER │LOMBOK PRESS │ZAKIY MUBAROK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.