MATARAM – 17 September 2008. Sepuluh tahun lalu. Saat dilantik sebagai Gubernur NTB (2008-2013) bersama Ir. H. Badrul Munir, MM., tidak sedikit yang meragukan kemampuan Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. HM. Zainul Majdi. Selain usianya masih sangat muda (36), latar belakang pondok pesantrennya menjadi salah satu faktor penyumbang keraguan itu. Namun, sejumlah keraguan itu sirna. Sejalan dengan prestasi yang ditorehkannya. Termasuk saat berpasangan dengan H. Moh. Amin, SH., pada periode kedua (2013-2018) TGB menjawab keraguan dengan kerja nyata.

Setiap pemimpin memiliki visi atas kepemimpinannya. Tapi tak jarang ada yang gagap dalam menjalankan strategi. Dan kemudian kandas dalam implementasi. Tapi itu tidak dialami TGB. Ia punya visi dan sekaligus punya strategi, serta memiliki kemampuan mengimplementasikannya.

Jumlah penduduk NTB memang tak seberapa. Jika dibanding beberapa daerah lain di Indonesia. Tapi pasti tak mudah mengelola 4 sampai 5 juta jiwa yang ada. Karakteristik dan perilakunya macam-macam pula. Begitupun dengan keragaman etniknya. Saat jabatan Gubernur diemban, problem pembangunan terhampar dihadapannya. Persoalan birokrasi, ekonomi, hukum, hingga budaya. Pun dinamika politik kepartaiannya.

Harus diakui, popularitas daerah ini selama masa kepemimpinan TGB, trendnya positif. Tidak saja menggembirakan, tapi juga membanggakan. Baik disebabkan pencapaian pembangunannya, maupun karena figur personal TGB yang menasional. Dalam berbagai survei yang diadakan popularitas itu sangat terasa.

Karena itu, tidak ada sikap yang pantas kita ekspresikan kepada TGB kecuali terimakasih dengan penuh penghormatan yang sebesar-besarnya. Thank you TGB! Your dedication  for the last 10 years to lead NTB and your hard work along with all of the achievements shall be remembered.

Mengutip Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, dalam dua periode memimpin NTB, TGB berhasil menurunkan tingkat kemiskinan sekitar 10 persen. Pada 2008 saat awal menjabat, tingkat kemiskinan di NTB mencapai 24 persen, kemudian dalam 10 tahun turun menjadi 14 persen. Hal ini disampaikan dalam acara peluncuran buku TGBnomics, di Hotel Ayana Midplaza, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 14 September 2018, lalu.

17 September 2018, adalah akhir dari masa kepemimpinan TGB di NTB. Pemilihan Kepala Daerah 2018 lalu telah menghasilkan kepemimpinan duo doktor yakni, Dr. H. Zulkifliemansyah – Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalillah yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat, sebagai Gubernur – Wakil Gubernur NTB 2018-2023.

Zulkifliemansyah sebelumnya Anggota DPR RI.  Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini dikenal memiliki jaringan luas tidak saja di level nasional tapi juga internasional. Memiliki concern pada dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Tak heran, jika kita cermati akun media sosialnya, postingan tentang dua hal itu sangat kental. Meskipun tentu saja tidak menghilangkan perhatian dan visinya tentang ekonomi, budaya dan teknologi, yang akan dicurahkan untuk kepentingan daerah ini.

Sementara itu, Sitti Rohmi Djalillah, adalah Rektor Universitas Hamzanwadi Pancor Lombok Timur. Dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan tegas. Sewaktu masa kampanye Pilkada, ungkapannya yang saya sering dengar -dari Dr. Ir. H. Rosiady Sayuti, M.Sc- kalau TGB waktu jadi Gubernur NTB harus turun setiap hari sepuluh titik, saya harus turun lebih dari itu. Ungkapan yang mengekspresikan syarat keberhasilan harus dilalui dengan kerja keras

Thank You TGB, Welcome Duo Doktor. []

LOMBOKPRESS | 15 SEPTEMBER 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.