Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor)turun ke Bima. Mereka memeriksa senjata api dan jenis puluru yang diduga digunakan aparat untuk “memberondong” demonstran anti tambang di Pelabuhan Sape, beberapa waktu lalu. Bersamaan dengan itu, jumlah polisi yang diperiksa dalam kasus yang sama, terus bertambah. Sebelumnya hanya 20 orang, hingga berita ini ditulis menjadi 65 orang.

Mataram.L.Press.com-
Pemeriksaan itu diakui Wakapolda NTB, Kombes Pol Drs. Martono kepada sejumlah wartawan di Mapolda NTB, hari ini(29/12). “Dari sebelumnya 20 anggota, yang diperiksa bertambah menjadi 65 orang. Tidak menutup kemungkinan anggota yang akan diperiksa terus bertambah,” bebernya. Tidak hanya prajurit, Kapolres Bima Kota juga dimintai keterangan. Alasannya, saat itu Kapolres, Kumbul KS, SIK memimpin operasi pembubaran paksa demonstran dari Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) yang menyebabkan dua korban tewas.

Bertambahnya anggota yang diperiksa oleh Divisi Propam Mabes Polri itu setelah diidentifikasi peran masing-masing anggota dan perwira saat terjadi pembubaran paksa itu. “Kan saat operasi itu ada yang berperan ini, ada yang berperan itu. Sehingga berkembang terus. Jadi pemeriksaannya berdasarkan apa saja peranan masing – masing anggota dan perwira saat itu,” ujar Wakapolda, namun tidak merinci peranan dimaksud, karena hanya sebatas diketahui Propam. Dipastikannya pemeriksaan akan menyeluruh terhadap semua yang terlibat saat operasi itu.

Selain Kapolres, apakah Kapolda juga diperiksa Propam? Wakapolda tidak bisa memastikan, sebab akan menunggu hasilnya.

Selain Propam periksa personel, Puslabfor juga ambil bagian mengidentifikasi penggunaan senjata api oleh aparat saat membubarkan massa. Tim Puslabfor dengan peralatannya turun ke lokasi untuk olah TKP. “Di lokasi, akan diperiksa proyektil pelurunya, senjatanya diperiksa, sampai pemeriksaan selongsongnya. Ini untuk mencocokkan peluru yang ditemukan di tubuh korban atau yang di TKP dengan senjata milik aparat saat itu,” terangnya. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memeriksa untuk memastikan apakah ada pelanggaran protap dalam penanganan massa saat itu. “Nanti apapun hasilnya, akan disampaikan secara terbuka,” terangnya. [Yadin Black]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.