Agenda politik lima tahunan, Pemilu (pemilihan umum) 2019, sebentar lagi dilaksanakan. Masa depan politik kebangsaan kembali akan ditentukan. Minimal lima tahun kedepan. Dan pertama kalinya, Pemilu kita laksanakan secara bersamaan untuk memilih Presiden/Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota.

Mengingat ini kali pertama kita laksanakan bersamaan, soal teknis pencoblosan menjadi salah satu pembicaraan setiap tema Pemilu disodorkan. Rata-rata publik sudah membayangkan, betapa banyak jumlah surat suara di tempat pemungutan suara (TPS) saat “eksekusi keputusan politik” dilakukan.

Selain soal teknis pencoblosan dengan ragam pilihan, tema tentang daerah pemilihan juga kerap menyergap perbincangan. Khususnya soal domisili yang dikaitkan dengan hak kepemilihan. Warga dimana yang boleh mencoblos calon legislatif yang mana. Misalnya, kalau ada calon legislatif DPRD NTB untuk daerah pemilihan Kota Mataram. Ada yang membayangkan, karena itu tingkat provinsi, maka selain yang berdomisili di Kota Mataram bisa memilih. Dan mohon maaf, tak jarang kita menemukan pertanyaan dan problem itu pada mereka yang berpendidikan.

Menghadapi kenyataan itu, maka tidak hanya anggota dan aparat komisi pemilihan umum (KPU) dari pusat sampai daerah saja yang harus memastikan bahwa secara teknis Pemilu 2019 dapat dengan baik dilaksanakan. Tetapi semua pihak yang mengetahui teknisnya harus juga menerangkan. Terlebih lagi calon anggota legislatif dan timnya. Eits, jangan salah, masih ada loh warga yang belum memiliki pemahaman soal warna sampul untuk masing-masing tingkatan.

Benar, bahwa Pemilu adalah soal substansi politik masa depan. Ungkapan populer yang sering kita dengar, lima menit di bilik suara yang menentukan. Tidak saja soal nasib politik kepemimpinan, tapi juga bagaimana arah pembangunan. Apakah akan lebih baik, sama atau lebih buruk dari yang telah dilaksanakan.

Namun, pencapaian substansi politik tentu harus melalui teknis Pemilu yang menuai keberhasilan dan kesuksesan. Jangan pernah membayangkan, substansi politik dapat diwujudkan, jika warga gagal menjalani Pemilu setiap tahapan. Seperti diatas telah diuraikan, baiknya latar belakang pendidikan dan pekerjaan relatif telah membawa pada pemahaman, tapi ternyata belum menjamin pemahaman tentang teknis kepemiluan yang harus dijalankan.

Bukankah akan sangat disayangkan, jika suara-suara cerdas masyarakat harus hilang atau batal hanya gegara soal teknis yang  tidak terselamatkan? Aspirasi politik warga lenyap karena soal teknis yang salah pemahaman? Tentu tak sulit menjelaskan atau menerangkan pada masyarakat yang berpendidikan. Bukan berarti mereka para orang tua yang tak sempat mengenyam pendidikan sulit dijelaskan, tapi pasti butuh waktu lebih untuk menerangkan perihal teknis pencoblosan.

Terlebih saat ini, pembuatan dan pemasangan alat peraga kampanye calon legislatif dirasakan ada pembatasan. Dalam artian, tidak seperti Pemilu yang sebelumnya pernah berjalan. Memang, tidak juga bisa disimpulkan  marak atau tidaknya alat peraga kampanye (APK) berkorelasi dengan tinggi atau rendahnya pemahaman. Namun, maraknya APK disatu sisi turut berkontribusi bagi upaya peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga tentang kepemiluan. Ruang ikhtiar bersama dalam rangka turut mensosialisasikan pelaksanaan Pemilu menjadi lebih banyak disediakan.

Belum selesai soal teknis kepemiluan, kita juga dihadapkan pada trend warga yang masih memupuk ketidakpercayaan terhadap politik kenegaraan. Menghilangkan kesan bahwa politik adalah janji hari ini besok dilupakan, di beberapa pihak yang masih tertanam tidak mudah dilakukan. Butuh waktu panjang sampai pada titik kesepahaman.

Di bagian akhir tulisan ini, saya kutipkan pandangan Robert A. Dahl dalam buku Perihal Demokrasi (YOI : 2001). Dia menulis, demokrasi telah dibahas, diperdebatkan, didukung, diserang, dilecehkan, ditegakkan, dipraktekkan, dihancurkan, dan kadang-kadang ditegakkan kembali, selama lebih kurang 2500 tahun. []

16 JANUARI 2019 || M. ZAKIY MUBAROK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.