Oleh : Iqbal Muhtarom*

Masuknya nama M. Zainul Majdi dalam survei nasional yang mengukur elektabilitas calon presiden atau calon wakil presiden layak untuk diberi catatan tersendiri. Setelah hanya tersebar diantara reriungan satu dua obrolan dan kicauan di media sosial, kini nama Zainul Majdi yang lebih populer dengan sebutan TGB alias Tuan Guru Bajang mulai masuk dalam daftar calon layak presiden atau wakil presiden untuk Pemilihan Presiden 2019.

Kendati hanya memperoleh suara yang amat kecil dalam survei yang digelar Saiful Mujani Research and Consoulting pada September 2017 lalu, atau pada survei terbaru Poltracking yang dipublikasikan November ini, nama TGB langsung menyodok, melewati banyak nama yang selama ini sudah banyak tampil di panggung politik nasional. Dengan berbagai alasan yang nanti akan dikemukakan dibagian bawah, munculnya nama TGB dalam survei survei tersebut cukup mengejutkan.

Setidaknya ada beberapa sudut pandang yang bisa kita gunakan untuk mendudukkan TGB pada survei yang mengukur elektabilitas kepemimpinan nasional. Pertama, TGB, seperti kita tahu, membangun karir politiknya di Nusa Tenggara Barat, sebuah provinsi dan wilayah yang bisa dibilang pinggiran, baik dilihat dari sisi teritorial kewilayahan Indonesia, terlebih lagi dari aspek sosial politik ekonomi.

TGB tidak membangun karir politiknya di Kota Jakarta dan tidak pula di Pulau Jawa. Kita semua mafhum, sejarah dinamika sosial politik dan juga ekonomi Indonesia selama ini amat ditentukan oleh Jakarta dan Jawa. Ini adalah realitas politik yang tidak bisa dibantah. Kita bisa belajar dari fenomena Jokowi lima tahun lalu.

Joko Widodo harus menjalani tangga sebagai Gubernur DKI Jakarta terlebih dahulu, sebelum kemudian, ia menapak tangga berikutnya, calon presiden Indonesia. Menjadi Wali Kota Solo, sebuah wilayah yang dikenal menjadi pusat kebudayaan Jawa disamping Yogyakarta, belum bisa menjadi jaminan tiket bagi Jokowi untuk menjadi pemimpin nasional.

Jokowi terlebih dulu harus menjalani dulu uji medan kerasnya politik Jakarta. Baru setelah itu ia dianggap layak untuk maju sebagai calon Presiden. Fenomena Jokowi memang luar biasa, ia hanya memerlukan 2, 5 tahun dari seorang wali kota kemudian melompat menjadi pemimpin bagi 250 juta rakyat Indonesia.

Namun yang harus kita ingat, Jokowi adalah kesayangan media media di Jakarta. Gebrakannya merelokasi PKL tanpa menggusur dan tanpa cara cara kekeraan mendapat pujian dan decak kagum publik yang luas. Lalu kita tak mungkin lupa dengan cerita Esemka. Risngkasnya, Jokowi kemudian dibesarkan oleh media.

Disinilah, catatan kedua yang mesti kita berikan ke TGB. Ia hampir bisa dibilang jauh dari sorotan kamera dan kejaran wartawan. Untuk ini ada baiknya kita mengetahui bagaimana media bekerja. Rumus klasik sebuah berita untuk beberapa hal masih berlaku, anjing menggigit manusia bukan berita. Tapi manusia menggigit anjing baru berita. Intinya, media butuh sensasi, tentu tidak selalu dalam pengertian negatif.

Pada  saat yang sama, TGB juga tidak melakukan secara terencana operasi pencitraan. Pemberitaan soal TGB adalah berita yang biasa saja, aktivitasnya sebagai Gubernur dan juga belakangan sekaligus sebagai ulama, sebuah status kultural yang sudah ia sandang jauh sebelum menjadi Gubernur NTB. Bahwa dibawah kepemimpinannya, NTB mampu meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK enam tahun berturut turut, bagi media itu adalah hal yang biasa. Diberitakan secukupnya.

Dengan pertimbangan tersebut, cukup mengejutkan bila nama TGB bisa menerobos ranking daftar calon presiden, hanya berselisih satu nama dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo pada survei SMRC. TGB bahkan menyingkirkan nama nama pemain nasional seperti Wali Kota Surabaya yang kesohor Tris Rismaharini, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Bukan Gubernur di Pulau Jawa, jauh dari sorotan media, nama TGB bisa menyalip nama nama yang setiap hari menjadi komoditas media.

Bila kita menseleksi nama-nama yang ada diatas, praktis TGB hanya akan bersaing dengan Agus Harmurti Yudhoyono dan Gatot Nurmantyo, selebihnya adalah nama nama pemain politik lama yang tak mungkin untuk naik panggung lagi, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto dan Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri.

Memang ada nama Anies Bawedan dan Ridwan Kamil yang elekabilitasnya cukup bagus. Tapi, kedua nama tersebut tampaknya akan konsentrasi di politik tingkat lokal, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Nama Hary Tanoesudibjo, dengan berbagai pertimbangan untuk sementaa bisa kita abaikan.

Setelah menyisihkan nama nama tadi, yang tersisa adalah Presiden Jokowi dan seterunya pada 2014 lalu, Prabowo Subianto. Kemudian menyusul ada nama AHY, Gatot Nurmantyo dan TGB. Kelima nama ini pula yang sering diutak atik dan disimulasikan dalam sejumlah polling di Twiiter. Tentu polling di Twitter ini tidak ilmiah dan jauh dari akurat. Tapi setidaknya kita bisa membaca kecenderungan. Dan hasilnya pun sejauh ini, tak jauh dari hasil survei yang ada.

Apakah mengada-ada, dengan modal elektabilitas TGB yang hanya 0.8 persen dibandingkan dengan elektablitas Jokowi yang 45,6 persen. Jenderal Gatot pun dengan segala langkah dan pemberitaan elektabilitas masih tertahan di 1,3 persen. Toh Jokowi pun belum aman. Masih ada waktu untuk melakukan kapitalisasi.

Masih tercatat sebagai anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, TGB tahu sopan santun dan menjaga adab.  TGB  justru menunjukkan khas orang Jawa, ia tidak menunjukkan obsesi yang menggebu gebu. Sebagai politikus, TGB sangat mampu mengendalikan emosi, sebuah kualifikasi yang diperlukan seorang negarawan.

TGB juga tak mau berada di wilayah abu-abu, menjadi politikus disini senang disana senang. Sebagai ulama ahli tafsir, ia tak mau melihat kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok soal al maidah ayat 51  secara samar-samar, bagi dia, tak ada tafsir lain soal al maidah.

Yang harus menjadi catatan khusus adalah untuk Partai Demokrat. Partai ini dan juga tentunya SBY, harus pandai mengelola dua kader mudanya TGB dan AHY yang menjadi aset paling berharga partai saat ini. Jangan sampai justru menjadi kontraproduktif, tidak saja bagi kedua tapi juga bagi eskalasi politik yang lebih luas. []

*Pekerja Media tinggal di Yogjakarta           

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.