Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid/net

Kamis, 26 Oktober 2017, Ketua Dewan Gelar,  Ryamizard Ryacudu, menyampaikan,  Presiden telah memutuskan tokoh-tokoh yang akan diberi gelar pahlawan nasional. Ia menyebut tiga tokoh pejuang tanah air. Yaitu, Mahmud Marzuki dari Provinsi Riau, Laksamana Malahayati dari Aceh, dan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ketiga nama tokoh pejuang yang terpilih sebagai pahlawan nasional ini akan diumumkan secara resmi pada 10 November 2017 bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Ryamizard menambahkan, penganugerahan gelar pahlawan nasional itu dipilih berdasarkan sembilan nama yang diajukan oleh Kementerian Sosial kepada Presiden Joko Widodo. Sembilan nama itu, antara lain tokoh Nahdlatul Ulama/Mantan Presiden RI, Abdurrachman Wahid (Gus Dur), Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (Lafran Pane), Pejuang dari Aceh (Laksamana Malahayati), Sultan Mahmyd Riayat Syah, tokoh Nasionalis Religius (TGKH. Muhammad Zainudin Abdul Madjid), dan pejuang nasional Abdurrahman Baswedan. “Presiden memilih tiga atau empat nama yang bakal dianugerahi gelar pahlawan nasional,” kata Mensos Khofifah Indarparawangsa.

TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau Maulanasyaikh lahir di Pancor Lombok Timur NTB, 17 Rabiul Awwal 1316 H bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 dari hasil perkawinan antara Tuan Guru Abdul Madjid (Guru Mu’minah atau Guru Minah) dengan Hj. Halimah al Sa’diyyah. Beliau anak bungsu dari enam bersaudara. Kakak kandungnya lima orang, yakni Siti Syarbini, Siti Cilah, Hajjah Sawdah, Hajji Muhammād Shabūr dan Hajjah Masyitah.

Setelah kurang lebih 12 tahun (atau 13 kali musim haji) belajar di Tanah Suci Mekah, Maulanasyaikh kembali ke tanah air. Saat itu, Bangsa Indonesia sedang sibuk menghadapi agresi kolonial Belanda. Beliau pun langsung melakukan safari dakwah ke berbagai lokasi di Pulau Lombok dan beliau dikenal oleh masyarakat luas. Pada waktu itu masyarakat menyebut beliau dengan panggilan ‘Tuan Guru Bajang’.

Suasana heroik kepulangan Maulanasyaikh dari Mekah yang dilatari oleh agresi kolonial Belanda itu antara lain terekam melalui tulisan Dr. H. Masnun, MA dalam buku ‘Tuan Guru KH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid – Gagasan dan Gerakan Pembaharuan Islam Di Nusa Tenggara Barat’ (Pustaka Al-Miqdad : 2007). Dalam buku ini ditulis, setibanya di Pancor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat bangsa Indonesia sedang sibuk menghadapi agresi kolonial. Maulanasyaikh tidak bisa tinggal diam. Meski puluhan tahun (bahkan belasan tahun, red) berada di Makkah, rasa nasionalismenya spontan muncul ketika martabat masyarakat dan bangsa Indonesia terinjak-injak oleh kebengisan pihak kolonial. Maulanasyaikh tampil sebagai pejuang membela tanah air dari cengkeraman tangan penjajah. Keberanian dan keteguhan pribadinya tak pernah tergoyahkan oleh kekuatan yang menghadang. Melalui gerakan al-Mujahidin yang dipimpinnya kemudian bergabung dengan gerakan perintis kemerdekaan, ia memimpin pertempuran merebut kemerdekaan RI di Nusa Tenggara Barat. Akibat kegigihannya membela wilayah kesatuan RI, masyarakat Nusa Tenggara Barat menjuluki Maulanasyaikh sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.

Di tengah gerakan perjuangan merebut kemerdekaan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H, bertepatan dengan 22 Agustus 1937 M, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Lembaga pendidikan ini memperoleh izin resmi dari pemerintah Hindia Belanda tanggal 17 Agustus 1937 M. Sedang Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang khusus untuk wanita didirikan tanggal 15 Rabiul Akhir 1362 bertepatan dengan dengan tanggal 21 April 1943.

NWDI dan NBDI bukan sekedar tempat berlangsungnya pendidikan agama. Di tengah kuatnya tekanan kolonial, Maulanasyaikh memanfaatkan lembaga tersebut untuk menumbuhkan jiwa dan semangat perjuangan, sikap patriotisme dan pantang mundur dalam menghadapi tindakan semena-mena kaum kolonial.

Begitupun saat tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administrations) mendarat di Pulau Lombok. Sikap represif yang ditunjukkan tentara NICA memancing kemarahan rakyat Indonesia untuk bangit melakukan perlawanan. Lagi-lagi Maulanasyaikh bersama para santri dan guru NWDI dan NBDI membentuk organisasi yang disebut gerakan al-Mujahiddin. Organisasi ini selanjutnya bergabung dengan gerakan Banteng Hitam, gerakan Bambu Runcing, BKR, API di Pulau Lombok untuk menyatukan langkah membela dan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Bagi masyarakat NTB, masuknya nama Maulanasyaikh TGKH M. Zainudin Abdul Madjid dalam tiga besar nominator penganugerahan gelar pahlawan nasional, tentu sangat membanggakan. Karenanya, sejak kabar penganugerahan tersebut diperoleh masyarakat melalui media massa, dukungan dan doa sebagai wujud kesyukuran diekspresikan dan dipanjatkan.

Gubernur NTB, Dr. TGH M Zainul Majdi yang juga cucu dari Maulanasyaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menyampaikan apresiasinya yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya diiringi terimakasih dan doa atas ikhtiar dan kerja keras dari semua pihak dalam ikut memperjuangkan agar TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, mendapat gelar pahlawan nasional. “Perjuangan untuk meraih gelar pahlawan nasional bukanlah pekerjaan sederhana, tetapi cukup berat dan berliku,” kata Gubernur NTB seperti ditulis republika.co.id.

Ditambahkan Gubernur NTB, pemberian gelar pahlawan nasional kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menegaskan keterlibatan para ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan NKRI, sekaligus memperlihatkan keterlibatan tokoh-tokoh NTB.[]

BERBAGAI SUMBER│30 OKTOBER 2017│M ZAKIY MUBAROK

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.