Mataram/L-Press

Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi NTB, Fauzan Khalid S.Ag. MA., mengakui, pihaknya berada dalam posisi yang dilematis terkait daftar pemilih tetap (DPT) dalam Pemilihan Umum (Pemilu).

“KPU mengalami posisi yang dilematis. Di satu sisi jika tidak mendaftarkan pemilih akan melanggar ketentuan, dan di satu sisi akan melanggar HAM karena menutup kran bersuara orang. Maka KPU lebih memilih untuk mendaftarkannya,” kata Fauzan Khalid saat menjadi pembanding dalam acara Bedah Buku Sisi Gelap Pemilu 2004 karya mantan Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Ramdansyah, di Mataram belum lama ini.

Ditambahkan, pada pelaksanaan Pemilu 2009 dan Pilkada 2010 kali ini, ada kesan antara KPU dengan pihak Bawaslu terlibat konflik. Hal ini berbeda ketika pelaksanaan Pemilu 2004 dimana dua lembaga ini terjalin komunikasi yang begitu kuat. “Karena itu ke depan, perlu disusun kode etik bersama antara KPU dengan Bawaslu,” tandas Fauzan Khalid.

Sementara itu, dalam paparannya, Ramdansyah, mengukapkan kritik terhadap gerakan mahasiswa yang tidak lebih sebagai ‘pedagang sapi’. Karena gerakan mahasiswa saat ini tidak mempunyai esensi, dan meninggalkan begitu saja hasil perjuangannya.

Ia juga menyoroti undang-undang pemilu yang menurutnya terpasung, ditambah penyelenggara Pemilu yang kurang berkapasistas, terjadinya jual beli suara dan sebagainya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Anggota KPUD Provinsi NTB, Ir. Zainul Aidi, mengungkapka, buku ‘Sisi Gelap Pemilu 2004’ merupakan bahan evaluasi sistem pemilu, DPT, dan idealnya tidak ada kisruh DPT.

Demokrasi, katanya, harus linier dan harus ada perbaikan. Ia melihat, terdapat beberapa kemajuan pelaksanaan Pemilu dari period eke periode. Disebutka antara lain kemajuan itu, ruang untuk peserta dari Parpol dan perseorangan, administrasi penyelenggaraan mulai dari DPT, pendaftaran calon, perubahan dari sistem coblos ke mencontreng, merupakan satu kemajuan. “Namun, peluang membeli suara eceran semakin terbuka. Dan mengakibatkan konflik,” timpalnya.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Yayasan KATALIS NTB itu, pihak Kepolisian Daerah NTB memandang, sisi gelap Pemilu sebenarnya terletak pada para kandidat, khususnya menjelang pelaksanaan Pilkada di daerah ini. Menurut pihak kepolisian setempat, sisi gelapnya adalah ketika calon atau kandidat tidak siap kalah dalam Pemilu. Karena itu dihimbau, agar setiap calon atau kandidat untuk siap menang dan siap kalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.