Joki Cilik
Joki Cilik

Terik matahari siang itu disertai debu yang berterbangan menjadi hal yang biasa di hari itu di arena pacuan kuda (Lapangan PSLT Lombok Tengah), Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Sebab pada hari itu, di arena tersebut diadakan lomba pacuan kuda yang memperebutkan piala Bupati Lombok Tengah.

Arena yang berada di pusat kota praya tersebut pada hari-hari hanya dipergunakan untuk kegiatan olahraga sepak bola oleh masyarakat praya. Namun hari minggu (10/11), arena pacuan mendadak ramai. Ratusan orang hilir mudik keluar-masuk arena pacuan tersebut. Sebagian di antara mereka membawa serta kuda-kuda pacu.

Ya, hari itu merupakan babak final lomba pacuan kuda di Arena Pacuan Kuda Lombok Tengah. Lomba ini merupakan rangkaian dalam memperingati hari jadi Lombok Tengah. Hampir setiap tahun Kota Praya ramai dikunjungi orang luar dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Barat untuk mengikuti lomba pacuan kuda tersebut atau sekedar menonton even tahunan itu. Kalau di Kabupaten Sumabawa, even semacam itu disebut Main Jaran.

Pacuan kuda selalu identik dengan yang namanya joki. Di NTB pada umumnya, Pulau Sumabawa khususnya, profesi joki ini justru dilakoni oleh bocah usia 5 sampai 13 tahun. Bagi mereka menjadi joki adalah sebuah kebanggaan, meski nyawa mereka menjadi taruhan.

Tak nampak senyuman dari wajah mungil mereka jika giliran kudanya akan berlaga di arena pacuan. Kedua belah tangannya menggenggam pecut yang merukan satu-satunya senjata andalan mereka saat duduk di punggung kuda, tanpa dialasi pelana. Meski tubuh mungil mereka tak gentar saat dinaikan keatas punggung kuda yang posturnya lebih tinggi dan liar.

Diarena pacuan kuda joki cilik ini adalah pemegang kendali kemenangan. Harapan pemilik kuda, penonton dan juga penjudi bertumpu pada keahlian mereka menarik tali kekang kuda.

Sukardin (10tahun) alias Black (nama keren saat di arena pacuan) adalah salah satu dari sekian joki yang meramaikan arena pacuan kuda se NTB. Bocah yang berasal dari Kabupaten Sumabawa ini tak hanya bertarung di arena pacuan kuda di NTB tetapi sampai di NTT dan provinsi-provinsi lainnya.

Black yang mengaku belajar menjadi joki sejak usia 5 tahun itu sering kali mengondol juara satu dalam arena pacuan kuda. Setiap kali menjadi joki, siswa kelas 5 Sekolah Dasar itu dibayar sebesar 10 ribu hingga 50 ribu rupiah. Kedua orangtuanya sangat mendukung kegiatannya.

Mulai dari 300 ribu hingga 500 ribu nilai kontrak Black di setiap perttandingan dengan masa tanding selama seminggu. Demi uang yang jumlahnya tak seberapa, Black tak jarang mengalami cedera akibat terjatuh dari kuda yang di tungganginya.

“Sering saya terjatuh, apalagi kalau di kerato (arena pauan=Sumbawa) daerah saya menggunakan garis star nya masih secara tradisional dan penontonnya banyak yang masuk arena, sehingga kuda tunggangan saya ketakutan dan berontak membuat tubuh sy terhempas,” terang Black yang memang memiliki kulit hitam manis.

Tak heran bila di NTB memiliki begitu banyak arena pacuan kuda. Juga kuda-kuda tunggangan yang terlatih. Selain itu pula para joki cilik yang gagah berani dan siap bertarung memacu kudanya sekencang mungkin.

Yang menjadi cirri khas Lomba Pacuak Kuda di NTB adalah tidak adanya joki dewasa yang boleh ikut bertanding. Semua jokinya masih anak-anak dengan usia sangat belia.

Walaupun masih anak-anak, nyali mereka cukup besar. Mereka menunggang kuda hanya dengan pengaman helm di kepala, tanpa pelana atau perlengkapan standar berkuda lainnya. Jatuh dari kuda atau bahkan terseret kuda yang berlari kencang seolah sudah lazim. “Sudah biasa,” ujar Black, kepada Lombok Press.

Padahal, arena permainan seperti itu bukanlah tempat yang aman bagi anak-anak seusia Black. Tapi, kenyataannya, sudah banyak anak dari Sumbawa, Bima, Dompu ataupun kabupaten lain di NTB yang menguji nyalinya dengan mengikuti lomba tersebut. Kalaupun sudah tradisi, masyarakat semestinya perlu memikirkan pengamanan yang lebih baik bagi para joki yang rata-rata murid SD itu.

Menurut Gufran, pemilik kuda pacuan 2 Dara asal Sumbawa, beberapa tahun lalu lomba pacuan kuda dengan joki cilik itu sempat dilarang pihak keamanan di Sumbawa Besar. Namun, pelarangan itu tidak semata-mata disebabkan faktor joki cilik, melainkan karena ajang tersebut sering digunakan untuk berjudi. Maklum, meski yang menunggangi kuda anak-anak kecil, uang yang berputar di balik itu lumayan besar. Bisa sampai ratusan juta rupiah.

Faktor uang itulah yang membuat orang-orang tua di Sumbawa pada umumnya tidak takut untuk melepas buah hatinya mengikuti pacuan kuda. Bahkan, tidak jarang yang menjadi joki kuda pacuan secara turun-temurun. Black contohnya. Dia menjadi joki karena ayahnya saat masih kecil juga menjadi joki.

“Syarat menjadi joki itu biasanya anak yang berusia 7 tahun, memiliki badan yang kurus biar ringan saat menunggangi kuda pacuan, dan si joki harus cekatan saat memacu kuda pacuan,” terang Gufran yang sering kali kudanya menjuarai lomba.

Black menjadi joki cilik sejak masih duduk di bangku TK. Dia sudah berkali-kali mengikuti lomba balap kuda di Sumbawa. Orang tuanya mengakui bahwa uang yang dihasilkan anaknya dari pacuan kuda itu cukup besar. Untuk satu kali main saja, Black akan mendapatkan Rp3 juta. Belum lagi jika Reza menang di setiap balapan.

Salah satu pemilik kuda dari Kabupaten Bima, Ansyahari, mengatakan bahwa wewenangnya sebatas di lapangan. Dia tidak ikut mengurusi kehidupan si joki di luar arena pacuan.

’’Kalau mereka ada apa-apa di lintasan, seperti jatuh atau apa, kami akan tetap menanggung biaya perawatannya,” tutur pria yang berusia 37 tahun itu.

Sedangkan untuk urusan sekolah joki, pemilik kuda tidak punya tanggung jawab. Itu menjadi tanggung jawab orang tua joki. ’’Semua disepakati sejak awal oleh orang tua joki dan pemilik kuda. Jadi soal pendidikan dan lain-lain, itu bukan tanggung jawab kami,” jelasnya. [YB]

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.