Pelataran Islamic Centre Lombok Nusa Tenggara Barat

LPress – Suatu ketika, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), menyatakan, peluang Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pusat keuangan syariah dunia cukup terbuka lebar. Sebabnya, penduduk daerah ini mayoritas muslim. Banyak diantaranya yang berlatar belakang pondok pesantren. Plus lokasi daerah ini strategis. Pernyataan ini pun dikutip oleh beberapa media.

Namun, TGB juga menyadari, untuk mencapai hal itu, tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu dan kesiapan dari semua unsur di daerah ini serta harus sudah dimulai dari sekarang. Caranya, berikan edukasi dan sosialiasi ke masyarakat.

Menurut data dari Departemen Riset Kebanksentralan Bank Indonesia (BI), secara nasional peranan lembaga keuangan syariah masih terbatas. Hal itu disebabkan karena masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah. Rendahnya pemahaman tersebut, menyebabkan kecintaan masyarakat terhadap lembaga dan produk keuangan syariah masih rendah pula. Selain sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, lembaga keuangan syariah harus bisa menunjukkan kelebihannya dibandingkan lembaga keuangan konvensional kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat menjadi tertarik menggunakan produk lembaga keuangan syariah.

Lembaga keuangan syariah saat ini bukan lagi hanya membahas aspek halal maupun haram. Akan tetapi, pengembangan inovasi dan kreasi dalam memperkenalkan produk-produk keuangan syariah. Sehingga pada akhirnya mereka menyadari bahwa produk keuangan syariah tidak hanya halal artinya secara syar’i benar, tapi juga punya tingkat keamanan, kenyamanan, efisiensi, dan keberkahannya uga terjamin.

Lembaga Keuangan
Menurut SK Menkeu RI No. 792 Tahun 1990, yang dimaksud lembaga keuangan adalah semua badan yang kegiatannya bidang keuangan. Badan ini melakukan aktivitas menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat terutama untuk membiayai investasi perusahaan.

Meskipun dalam peraturan tersebut diutamakan untuk membiayai investasi perusahaan, tidak berarti membatasi kegiatan pembiayaan lembaga keuangan. Sebab dalam praktiknya, kegiatan usaha lembaga keuangan juga diperuntukkan tidak saja untuk investasi perusahaan, tapi juga untuk kegiatan konsumsi, dan kegiatan distribusi barang dan jasa.

Karena itu, ada yang mendefiniskan lembaga keuangan sebagai badan usaha yang memberikan pembiayaan/kredit kepada nasabah dan menanamkan dananya dalam surat-surat berharga. Selain itu, lembaga keuangan juga menawarkan berbagai jasa keuangan, seperti berbagai jenis skema tabungan, proteksi asuransi, progam pensiun penyediaan sistem pembayaran dan mekanisme transfer dana.

Dengan kata lain, lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, menghimpun dana, menyalurkan dana atau kedua-duanya. Artinya kegiatan yang dilakukan oleh lembaga keuangan selalu berkaitan dengan bidang keuangan, apakah kegiatannya hanya menghimpun dana atau hanya menyalurkan dana atau kedua-duanya, menghimpun dana dan menyalurkan dana.

Ringkasnya, lembaga keuangan adalah badan usaha yang kekayaannya terutama berbentuk aset keuangan atau tagihan (claims). Fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan antara unit defisit dengan unit surplus dan menawarkan secara luas berbagai jasa keuangan, misalnya simpanan, kredit, proteksi asuransi, penyediaan mekanisme pembayaran dan transfer dana.

Konvensional dan Syariah
Sesuai dengan sistem keuangan yang ada, maka dalam operasionalnya lembaga keuangan dapat berbentuk lembaga keuangan konvensional atau lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah secara esensial berbeda dengan lembaga keuangan konvensional baik dalam tujuan, mekanisme, kekuasaan, ruang lingkup, serta tanggung jawabnya.

Setiap institusi dalam lembaga keuangan syariah menjadi bagian integral dari sistem keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah bertujuan membantu mencapai tujuan sosio ekonomi masyarakat Islam.

Dengan demikian, lembaga keuangan syariah adalah lembaga keuangan yang menjalankan kegiatannya dengan berlandaskan prinsip syariah Islam (syariah). Lembaga keuangan syariah (syariah financial institution) merupakan suatu badan usaha atau institusi yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset-aset keuangan (financial assets) maupun non-financial asset atau aset riil berlandaskan konsep syariah.

Lembaga keuangan syariah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lembaga keuangan depositori syariah (depository financial instituation syariah) yang disebut lembaga keuangan bank syariah dan lembaga keuangan syariah non depositori (non depository financial instituation syariah) yang disebut lembaga keuangan syariah bukan bank. Peranan kedua lembaga keuangan syariah tersebut adalah sebagai perantara keuangan (financial intermedition) antara yang pihak kelebihan dana atau unit surplus (ultimate lenders) dan pihak yang kekurangan dana atau unit defisit (ultimate borrowers).

Lembaga Keuangan Syariah, dalam setiap transaksi tidak mengenal bunga, baik dalam menghimpun tabungan investasi masyarakat ataupun dalam pembiayaan bagi dunia usaha yang membutuhkannya. Menurut Dr. M. Umer Chapra, penghapusan bunga akan menghilangkan sumber ketidakadilan antara penyedia dana dan pengusaha. Keuntungan total pada modal akan dibagi di antara kedua pihak menurut keadilan. Pihak penyedia dana tidak akan dijamin dengan laju keuntungan di depan meskipun bisnis itu ternyata tidak menguntungkan.

Sistem bunga akan merugikan penghimpunan modal, baik suku bunga tersebut tinggi maupun rendah. Suku bunga yang tinggi akan menghukum pengusaha sehingga akan menghambat investasi dan formasi modal yang pada akhirnya akan menimbulkan penurunan dalam produktivitas dan kesempatan kerja serta laju pertumbuhan yang rendah. Suku bunga yang rendah akan menghukum para penabung dan menimbulkan ketidakmerataan pendapatan dan kekayaan, karena suku bunga yang rendah akan mengurangi rasio tabungan kotor, merangsang pengeluaran konsumtif sehingga akan menimbulkan tekanan inflasioner, serta mendorong investasi yang tidak produktif dan spekulatif yang pada akhirnya akan menciptakan kelangkaan modal dan menurunnya kualitas investasi.

Dalam operasionalnya, Lembaga Keuangan Syariah berada dalam koridor-koridor prinsip-prinsip, (1) Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko masing-masing pihak, (2) Kemitraan, yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan, (3) Transparansi, Lembaga Keuangan Syariah akan memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor dapat mengetahui kondisi dananya, dan (4) Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin []

(dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.