Belum lama ini, penulis berkesempatan mengunjungi Kota Makasar Provinsi Sulawesi Selatan. Sebelumnya, di waktu yang berbeda, penulis juga beruntung mendapat kesempatan mengikuti Gelar Teknologi Tepat Guna di Kota Pekanbaru Provinsi Riau.

Di luar jadwal yang disusun panitia, penulis menyempatkan diri untuk berjalan-jalan mengelilingi Kota Makasar dan Pekanbaru. Saat menjalankan aktivitas ‘insidentil’ ini, penulis mengunjungi ‘Islamic Center’ yang ada di dua kota itu.

Beberapa ciri yang menyamakan dua ‘Islamic Center’ itu antara lain, pertama secara fisik keduanya memiliki postur bangunan yang besar, kokoh, dan megah, serta berdiri diatas areal (lahan) yang luas. Kedua, selain sebagai tempat ibadah formal (mahdhoh), di areal ‘Islamic Center’ juga dimanfaatkan oleh umat Islam setempat untuk menjalankan ibadah muamallah. Ketiga, kedua ‘Islamic Center’ itu juga menyediakan sarana pendidikan bagi anak-anak. remaja dan dewasa. Keempat, sama-sama berlokasi di jantung kota yang dekat pusat perkantoran, bisnis, dan sekolah. (Untuk Islamic Center di Kota Makasar, berdiri diatas lahan eks Universitas Hasanudin. Kini, kampus kebanggaan masyarakat angin mamiri itu, berada ke pinggir kota).

Seusai mendirikan salah satu sholat lima waktu di pusat keagamaan yang menjadi kebanggan masyarakat Kota Makasar dan Pekanbaru itu, penulis teringat rencana Pemerintah Provinsi NTB dibawah kepemimpinan TGH. M. Zainul Majdi., MA, yang akan membangun ‘Islamic Center’ di jantung Kota Mataram. Mungkinkah? Demikian antara lain pertanyaan singkat dalam hati penulis ketika itu.

Dan pertanyaan itu terjawab, Jum’at 19 Maret 2010 lalu. Meski sempat diwarnai pro dan kontra terkait lokasi, peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan ‘Islamic Center’ di daerah ini, berlangsung khidmat. Puluhan ribu ummat Islam yang hadir dari berbagai penjuru, menjadi saksi peletakan batu pertama itu. Acara ini dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. dan Dzikir Akbar yang dipimpin Ust. Arifin Ilham.

Saat menyusun tulisan ini, pandangan penulis tertuju pada sebuah buku lawas karangan (Alm) Dr. Kuntowijoyo (seorang cendekiawan muslim terkemuka di tanah air, red) berjudul Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia Cetakan kedua tahun 1994. Cetakan pertama buku ini tahun 1984. Di bagian akhir buku ini terdapat Bab berjudul Tugas Cendekiawan Muslim Dalam Masyarakat Teknokratis (Mengembalikan Peranan Masjid). Bab ini terdiri dari dua sub bab. Pertama Masjid Sebagai Pusat Gerakan dan kedua menguraikan tentang Musyarakah dan Jama’ah. Inti gagasannya adalah, masjid harus mampu tampil sebagai pusat perubahan sosial.

Dalam buku itu antara lain (Alm) Kuntowijoyo menulis, ‘ … andaikata masjid bisa meningkatkan citranya bahwa dia betul-betul bisa dipercaya, saya kira orang tidak akan segan mengeluarkan sebagian penghasilannya, mungkin tidak seperlima, malah lebih.’

Di bagian lain buku yang sama, Cendekiawan Muslim itu menguraikan, ‘masjid dapat berfungsi membina wilayahnya (jama’ah) dengan prinsip partisipasi, mempunyai komitmen membina umat Islam dalam segala hal. Islam sekarang ini, katanya, masih diorganisir oleh nilai-nilai abstrak, belum konkret. Solidaritas umat masih berkisar pada solidaritas polity (bukan politik). Artinya, kita merupakan kesatuan sosial yang mungkin saja utuh, tetapi tidak mempunyai tujuan yang jelas. Jadi, solidaritasnya memang ada, hanya belum mengakar’.

Solidaritas yang dimaksudkan oleh (Alm) Kuntowijoyo adalah ‘solidaritas sosial dan solidaritas ekonomis di tingkat bawah. Artinya, umat tidak hanya disatukan dengan oleh ibadah yang sifatnya bersama, tetapi juga disatukan oleh nasib sosial dan nasib ekonomi yang sama’.

Relevan dengan gagasan itu, saat memberikan sambutan -sesaat sebelum dilangsungkanya peletakan batu pertama ‘Islamic Center’- Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi MA, menegaskan, pembangunan ‘Islamic Center’ ini tidak hanya terhenti sebagai ornamen. Dengan partisipasi semua pihak, demikian TGH. M. Zainul Majdi, ‘Islamic Center’ ini nantinya akan menjadi pusat kegiatan masyarakat di daerah ini. Tidak hanya dalam konteks ibadah mahdhoh, tetapi juga ibadah dalam dimensi muamallah. Dengan demikian, tujuan dibangunnya ‘Islamic Center’ sebagai pusat peradaban akan dapat diwujudkan di daerah ini melalui penyatuan nasib sosial dan nasib ekonomi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Karena itu, menurut hemat penulis, perdebatan soal lokasi tempat dibangunnya ‘Islamic Center’, hanya dapat diselesaikan melalui komitmen semua pihak untuk menjadikan masjid sebagai pusat perubahan sosial. Wallahu’alam Bisshawab.

Penulis : Abu Tahta

2 COMMENTS

  1. siapa abu tahta penulis di atas? bagaimana bisa mengutip dari buku kunto ‘solidaritas sosial dan solidaritas ekonomis di tingkat bawah. Artinya, umat tidak hanya disatukan dengan oleh ibadah yang sifatnya bersama, tetapi juga disatukan oleh nasib sosial dan nasib ekonomi yang sama’ disamakan dengan pembangunan IC? logika yang salah. bila mengutip karya kunto seharusnya yang dibangun dan diurus dengan serius oleh gubernur adalah pembangunan ekonomi. dan tak ada kaitannya IC dengan pembangunan IC.
    guru SDN 4 Bebidas, Lotim. blogger lotim.

  2. Di samping itu, NTB ini adalah provinsi yang multikultural atau heterogen. Bukan cuma golongan tertentu saja yang membutuhkan perhatian. Tapi seluruhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.