5 Oktober 2018, lalu, diperingati sebagai Hari Guru se-Dunia. Banyak soal yang belum terjawab terkait profesi guru. Khususnya cara bangsa ini menghormati dan menghargainya. Padahal, bangkit dan hancurnya sebuah peradaban bangsa, sangat ditentukan oleh entitas yang kita namakan guru ini.

Oleh : Dr. Lalu Sirojul Hadi, M.Pd

USIA guru sesungguhnya sama dengan usia peradaban. Karena lahirnya sebuah peradaban, biasanya selalu paralel dengan perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi. Kontribusi dan kedudukan guru, sangat nyata dalam proses menuju itu.

Dalam banyak kajian tentang entitas guru, disimpulkan bahwa keharmonian tatanan sebuah masyarakat bangsa, ditentukan oleh kaum guru. Bisa setuju, bisa tidak. Tapi pada kenyataannya, bagian-bagian distruksi dan deviasi kehidupan, oleh kaum guru telah dibenarkan dan diluruskan dengan pengajaran dan pendidikan, yang core dan contentnya juga adalah tentang nilai etik moral.

Pesannya adalah, jika suatu masyarakat bangsa, menginginkan kebaikan, kemajuan, harkat dan martabat?!, maka, komitmenlah terhadap kaum guru, bersahabatlah dengan guru, muliakanlah guru. Namun sebaliknya, kehancuran peradaban suatu masyarakat bangsa, jika masyarakat bangsa tidak lagi menghargai guru.

Fakta kita berbangsa hari ini, sebuah soal besar yang belum tuntas terjawab adalah, pada cara bangsa ini menghargai dan menghormati kaum guru. Dirasakan nyata, masih ada dikotomi dan disparitas kebijakan, dalam memotret dan memandang kaum guru. Tugas guru pada beberapa lembaga pendidikan, belum dihargai secara layak dan patut. Marginalisisasi sekelompok besar guru (swasta) masih menjadi ironi, yang tidak terbantahkan. Di sisi lain, amanah peradaban adalah amanah bersama, tugas mencerdaskan adalah tugas yang sama.

Memperingati hari guru sedunia 5 Oktober tahun 2018 ini, semoga bisa melahirkan dan menghadirkan gugahan,  secara moral politik, bagi siapa saja, juga pemerintah untuk menguatkan dan memperbaiki komitmen kesadaran, bahwa guru, lintas apapun identitas nya, lintas apapun lembaga penkhidmatan dan pengabdiannya, wajib dihormati!

Penulis adalah Praktisi Pendidikan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.