Manggaukang Raba
Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Sosial (PPS) Bappeda Provinsi NTB, Dr. Ir. H. Manggaukang Raba MM,

Mataram – Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Sosial (PPS) Bappeda Provinsi NTB, Dr. Ir. H. Manggaukang Raba MM, mengungkapkan, sekitar 2.689 petani garam di Provinsi NTB saat ini menggarap lahan seluas 1.913,45 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Di Kabupaten Bima terdapat 990 Ha. Sedangkan di Kabupaten Sumbawa (525 ha), Lombok Timur (293,7 ha), Lombok Barat (85,75 ha), dan Kabupaten Lombok Tengah (19 ha).

Dari jumlah itu, katanya, yang sudah digunakan untuk produksi garam seluas 1.186,46 Ha dengan produksi riil sebesar 59.777 ton garam. Dengan demikian, kebutuhan garam bagi penduduk di daerah ini sudah dapat dipenuhi, bahkan surplus.

Diterangkan, penduduk rata-rata membutuhkan garam sekitar 3kg/kapita/tahun. Saat ini, jumlah penduduk di Provinsi NTB kurang lebih 4.363.756 jiwa. Dengan demikian, dapat diperkirakan kebutuhan garam penduduk sebesar 13.091.268 kg atau sekitar 13 ribu ton lebih. Kebutuhan ini belum termasuk yang dikonsumsi oleh industri dan kerajinan rakyat.

Namun, garam produksi rakyat yang dihasilkan oleh sebanyak 2.689 petani garam itu, belum seluruhnya beryodium. Dari total garam yang diproduksi, baru sekitar 48,67 persen beryodium, atau baru sebanyak 6.372 ton. Kondisi ini diperburuk dengan belum terserapnya secara keseluruhan produk garam beryodium di pasar. Misalnya, sebuah perusahaan garam beryodium memproduksi sebesar 150 ton per bulan, hanya 80 ton atau 53 persennya yang terserap di pasaran. Disamping itu, peredaran garam non yodium di daerah ini belum dapat dikendalikan dengan baik. Mulai dari hulu (produsen garam), distribusi, hingga pemasaran.

Rendahnya cakupan konsumsi garam beryodium di daerah ini, menurut Manggaukang, antara lain disebabkan masih rendahnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengkonsumsi dan membeli garam beryodium. Ditambah, belum sinkron, terpadu dan bekelanjutannya program dan kegiatan percepatan peningkatan konsumsi garam beryodium di daerah ini.

Konsumsi garam beryodium masyarakat di daerah ini baru mencapai 35,63 persen. Padahal, rata-rata nasional sudah mencapai 64,5 persen. Pada tahun 2010 ini, target cakupan garam beryodium secara nasional adalah 90 persen. ***

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.